Susu Kedelai atau Sari Kedelai?

Bagi sebagian orang, judul di atas merupakan hal sepele yang tidak perlu dibahas. Namun bagi kami, khususnya saya sebagai pelajar yang menggeluti dunia peternakan, hal ini perlu diluruskan. Berkisah pada awalnya ada salah seorang teman saya menanyakan kepada dosen tentang kenapa “susu kedelai” masih kalah kualitasnya dibandingkan dengan susu murni padahal kandungan protein kedelai jelas lebih tinggi.

Teman saya bertanya : “Pak, kenapa susu kedelai kualitasnya kalah dibandingkan susu murni padahal proteinnya lebih tinggi?”

Bukannya menjawab, dosen kami malah bertanya balik tentang pertanyaan tersebut. Beliau berkata : “Apa ada susu kedelai?”.

Dengan rasa percaya diri tinggi, teman saya menjawab : “Ada pak”

Dosen kami masih mempermainkan kami dengan lanjutan pertanyaannya : “Memang kedelai punya ambing? Punya puting?”

Disertai tawa kami, teman kami menjawab : “Gak ada pak, terus namanya apa ya Pak?”

Dosen kami meneruskan : “Setahu saya, susu kedelai tidak pernah ada, tapi kalau sari kedelai itu ada”.

Nah begitulah asal muasalnya tentang pembahasan dalam postingan ini. Saya ingin melanjutkan kesimpulan dari penyampaian dosen kami tersebut. Susu, itu berasal dari ternak dengan proses penyusunan yang sangat panjang melibatkan banyak hormon, kelenjar, darah, duktus (saluran-saluran), sehingga sampai dapat dikeluarkan melalui puting (teat). Berbeda dengan sari makanan dalam hal ini kedelai. Sari kedelai bukan hasil proses sintesa (penyusunan) yang melibatkan banyak kelenjar, banyak hormon, darah, dan sebagainya. Itulah perbedaan yang mendasari antara susu dan sari kedelai. Setelah kami mengetahui tentang hal ini, lalu kami menganalisa keadaan sekitar kami. Ternyata banyak masyarakat yang belum mengetahui hal ini dengan hadirnya aneka produk dagangan berupa susu kedelai di sekitar daerah kampus kami yaitu UNS (Universitas Sebelas Maret) Surakarta (Solo). Yang tidak kalah menggelikan, ternyata di SNI (Standar Nasional Indonesia) menggunakan bahasa susu kedelai. Teman-teman dapat mengunduhnya di http://websisni.bsn.go.id kemudian searching dengan keyword susu kedelai. Hasilnya akan muncul nomor SNI SNI 01-3830-1995. Sungguh lucu dan menggelikan.

Di satu sisi, kami merasa benar, di sisi lain, yang lainlah yang benar. Akhirnya hal yang rancu menjadi kebiasaan dan dianggap benar. Bukan hanya tentang ini, akan tetapi banyak hal juga lho, silahkan telusuri sendiri. Hehe…

Inikah yang dinamakan “The wrong man in the right place” yang maksud saya, mungkin orang yang menyusun draft SNI tersebut bukan orang dari dunia peternakan, sehingga wajar kalau tidak mengetahui hal ini. Well, bagaimana menurut kamu???

Perihal Dede Ardiansyah Putra
Alumni Sarjana Peternakan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Berkomentar Please?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: